Republik Rakyat China
![]() |
Danau Taihu China penuh Ganggang Hijau |
Danau Tai adalah danau ke-3 terbesar di China. Lebih dari 2.800 pabrik berdiri sepanjang pinggiran danau itu dan tentu saja menjadi penyumbang polusi terbesar di negeri ini. Jadi bisa dibayangkan bila semua limbah akan mengalir ke danau Tai ini.
Pejabat pemerintah China bahkan mematok harga sebesar $14.400.000.000 hanya untuk membersihkan semua limbah industri yang telah mencemari perairan ini. Saat ini air di danau itu berubah menjadi wana hijau akibat pertumbuhan ganggang hijau yang tidak terkendali akibat polusi industri tersebut.
Saat ini daerah Taihu yang biasanya terkenal dengan objek wisatanya selalu dikait-kaitkan dengan masalah polusi. Karena dampak dari polusi industri yang makin parah, maka kualitas air di danau Tai makin memburuk. Meskipun Departemen Sumber Daya Air setempat berusaha mengurangi krisis, tetapi pasokan air bersih ke sejumlah besar rumah tangga ternyata telah terkontaminasi. Air menjadi bau busuk dan tidak nyaman untuk diminum.
Bahkan ketika ganggang hijau meluas, warga bahkan mandi memakai air mineral.
Sebagai tanggapan atas keluhan warga maka pemerintah kota Wuxi membuat situs web untuk memberitahu penduduk supaya datang bersama-sama mengatasi krisis, yang mereka anggap sebagai suatu "bencana alam".
Dan perlu diketahui pemerintah china bahkan pernah memecat 5 pejabat yang bertanggung jawab atas polusi itu dan salah satunya adalah walikota setempat.
Sekarang pemerintah china lebih memberlakukan standar emisi polusi yang sangat ketat dan pabrik diharuskan membangun sarana pengolahan limbah industri.
Indonesia
![]() |
Citarum yang penuh Sampah |
Citarum adalah sebuah sungai yang terletak di Popinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai ini digunakan untuk mendukung pertanian yang ada bahkan sebagai sumber air bersih bagi warga Kota Jakarta.
Akan tetapi dalam 20 tahun terakhir ini Citarum telah banyak tercemar oleh aktivitas manusia karena sekitar 5 juta-an orang tinggal di pinggirannya. Apa yang terjadi bila sembilan juta orang saja membuang sampah di sungai, sementara perusahaan juga ikut membuang limbah berbahayanya?
Citarum sepertinya tercekik dengan plastik, bahan kimia bahkan kotoran manusia. Bagi generasi yang lalu, citarum adalah suatu saluran air yang damai dimana satwa liar bebas menikmati air bersih, ada ikan segar yang ditangkap dan bahkan "menghidupi" sawah-sawah penduduk.
Penduduk desa tidak dapat lagi mendapat uang dari mengail ikan, melainkan mereka beralih pekerjaan sebagai pemilah sampah yang mengapung di permukaan untuk mencari jenis sampah yang bisa diuangkan lagi.
Perkembangan Industri yang pesat era 80-an melahirkan lebih dari 500-an pabrik di tepi sungai sepanjang 200 mil. Banyak dari pabrik itu membuang limbah kimia tekstil kedalam air itu. Sampah yang mengapung diatasnya menandakan kurangnya antisipasi pelayanan angkutan sampah di darah tersebut. Semua rumah, pabrik dan bangunan lain di sepanjang sungai menumpahkan kotoran manusia kedalamnya.
Sungai Citarum pernah disebut sebagai sungai terkotor di dunia tahun 2008.
Kamboja
Poipet adalah kota perbatasan antara Kamboja dan Thailand. Ini mungkin adalah kota perbatasan yang paling banyak dikunjungi antara 2 negara itu. Dan yang datang ke sini kebanyakan wisatawan yang sehari-hari kebetulan melewati perbatasan. Di kota ini pun masalah sampah amat memprihatinkan. Pemerintah bahkan telah menggunakan sumber daya yang begitu banyak untuk mengatasi masalah sampah ini. Semua limbah atau sampah hanya di lemparkan dari jembatan ke sungai atau hanya dibuang kejalanan-jalanan. Tak seorangpun berpikir tentang dampak kerusakan akibat limbah dan sampah itu.
Thailand
Bangkok. Pertumbuhan pemakai kantong plastik makin meningkat di sana karena setiap toko apapun pasti menyediakan kantong plastik belanjaan sekali pakai. Padahal semua itu pasti akan berakhir jadi sampah di jalanan atau mengapung disalah satu dari banyak sungai di Bangkok. Sejumlah besar TPA di Bangkok bertambah dan menggunung akibat dari sampah plastik ini. Padahal dibutuhkan waktu 500 sampai 1000 tahun baru bisa terurai oleh lingkungan.
Mygreenworldasia menulis bahwa dalam usaha untuk mengurangi limbah dan pemanasan global, toko-toko di 7-Eleven di Thailand sekarang mempertimbangkan untuk berkampanye dan membujuk konsumen menggunakan kantong dari bahan kain untuk belanja.
Setiap tahun 7-Eleven menghabiskan sekitar 100 juta Baht hanya untuk menyediakan kantong plastik. Tapi sekarang toko-toko berusaha mencari cara agar konsumen beralih menggunakan kantong tas dari kain.
Limbah sampah sedang berkembang di Thailand dan hanya 3.3 juta ton (22 %) yang di daur ulang. Sebagian besar sampah adalah kantong plastik belanjaan.
Slogan Plastik :
"Saya digunakan hanya sekian menit tetapi hancurnya ratusan tahun".
"Saya digunakan hanya sekian menit tetapi hancurnya ratusan tahun".
Komentar
Posting Komentar