Setelah sekian lama vakum blogging karena berbagai kesibukan, maka saat ini saya berkesempatan menulis suatu cerita yang menurut saya sempat menggelitik kehidupan saya.
Sesuai dengan judulnya saya menilai apakah diri saya dan anda sudah sabar selama ini.
Ketika saya menjalani suatu proses belajar pada suatu kegiatan yang saya tekuni selama ini, ternyata saya bukan orang yang sabaran. Selalu saja tangan ini terasa gatal untuk mengeksekusi sesuatu. Dan akhirnya apa yang saya dapatkan? Kekecewaan tentunya.
Perhitungan dan strategi yang matang yang telah tersusun rapi langsung hancur seketika oleh karena sebab kurangnya kesabaran.
Tetapi dengan dorongan dan komitmen yang kuat saya mulai belajar mengendalikan diri saya sendiri. Seperti kata mentor saya musuh terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri. Berusahalah untuk kendalikan emosi anda, katanya.
Dan inilah cerita sederhana yang di tulisnya di sebuah forum yang selalu saya ingat (saya tidak tahu dia dapat dari mana atau karangannya sendiri):
Alkisah ada seorang pendekar yang ingin belajar sabar dan dia belajar ke orang tua, dan orang tua ini mengajarkan dia untuk menunggu buah kelapa jatuh dari pohon. 1 hari, 1 minggu dan 1 bulan akhirnya sang pendekar melihat ada buah kelapa yang jatuh dari pohon.
Dia begitu senang karena sebagai pendekar, dia bisa saja dalam hitungan detik menjatuhkan buah kelapa, tetapi kini dia berhasil melupakan kependekarannya dan hanya mengandalkan waktu.
Akhirnya pendekar turun gunung, dan di kaki gunung dia melihat seorang nenek sedang menggosok sebuah pedang ke batu.
tanya pendekar," Nenek sedang apa? apakah nenek sedang mengukir batu dengan sebuah pedang?"
Jawab nenek,"oooo nenek tidak sedang mengukir batu nak, tetapi nenek sedang menggosokkan pedang ini kepada batu agar pedang ini bisa mengecil dan menjadi sebuah jarum."
Betapa kagetnya pendekar ketika mengetahui bahwa ternyata kesabaran yang dia peroleh tidak dapat dibandingkan dengan kesabaran nenek ini.
Ketika saya pertama kali membaca ini, saya tidak begitu peduli. Tetapi setelah dibaca berulang kali, ternyata mengandung makna yang sangat dalam yaitu kita bisa melatih diri kita untuk bersabar dalam segala hal walaupun sebenarnya pada saat itu kita dapat melakukannya.
Sebenarnya dengan kemampuan bahkan keahlian kita, segala sesuatu dapat kita raih dalam sekejab. Tetapi karena ketidak sabaran sehingga kita jadi gegabah dalam bertindak. Kontrol pikiran rasional tidak lagi jalan, melainkan faktor emosional yang lebih dominan.
Dan akibatnya kegagalan, sakit hati bahkan kekecewaan yang kita dapatkan. Saya sudah alami hal itu berulang kali.
Semoga dengan cerita sederhana di atas boleh mengubah tabiat kita yang sembrono menjadi disiplin dalam mengatur hidup kita masing-masing.
Salam sukses...
Wouw...KEREN ABIS ...BOS....
BalasHapus