Banyak orang mempercayai bahwa balita gemuk itu pasti sehat dan banyak ibu yang yang merasa gelisah jika anaknya “tidak gemuk”. Mereka beranggapan bahwa anak yang sehat dan bergizi baik adalah yang gemuk. Juri sering memilih anak pemenang lomba adalah anak yang gemuk pada waktu lomba bayi sehat.
Gemuk (dan kegemukan/obesitas) pada anak tidak hanya terjadinya penambahan massa lemak di dalam sel, tetapi juga disertai dengan penambahan jumlah sel-sel lemak. Bertambahnya sel-sel lemak ini akan menjadi pola kegemukan seorang anak sehingga mempunyai potensi untuk menjadi gemuk dan bahkan kegemukan pada waktu dewasa.
Pada saat ini kegemukan anak balita dan anak sekolah sudah menjadi masalah gizi (kelebihan gizi) yang cukup menguatirkan. Prevalensi kegemukan pada balita di Indonesia meningkat melampaui angka malnutrisi pada balita. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan, prosentase balita gemuk mencapai 14 persen lebih tinggi dari jumlah balita yang sangat kurus dan kurus yakni 6 persen dan 7,3 persen atau 13,3 persen. Sementara hasil riset serupa pada tahun 2007 menunjukkan angka prosentase balita gemuk baru 12,2 persen.
Peningkatan prevalensi obesitas juga diikuti dengan peningkatan prevalensi komorbiditas (penampilan bersamaan dari dua penyakit atau lebih), seperti peningkatan tekanan darah, aterosklerosis (pengerasan dan penyempitan pembuluh darah), hipertrofi ventrikel kiri (gangguan jantung), sumbatan jalan napas saat tidur, asma, sindrom polikistik ovarium (gangguan keseimbangan kadar hormona pada wanita), diabetes melitus tipe-2, perlemakan hati, abnormalitas kadar lipid darah (dislipidemia), dan sindrom metabolik (gangguan metabolisme).
Anak yang sehat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Salah satu upaya orang tua untuk menjaga kesehatan anak adalah memantau perkembangan berat badan anak dengan cara menimbang anak setiap bulan baik di posyandu, klinik kesehatan atau ditimbang sendiri di rumah dan sebagainya. Jika 2 (dua) kali penimbangan anak secara berturut-turut tidak naik berat badannya, maka ibu (orang tua) seyogyanya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengevaluasi anak dalam keadaan sakit, kurang gizi, atau ada gangguan yang lain.
Author
Drs. Djoko Sutopo, MS
Gemuk (dan kegemukan/obesitas) pada anak tidak hanya terjadinya penambahan massa lemak di dalam sel, tetapi juga disertai dengan penambahan jumlah sel-sel lemak. Bertambahnya sel-sel lemak ini akan menjadi pola kegemukan seorang anak sehingga mempunyai potensi untuk menjadi gemuk dan bahkan kegemukan pada waktu dewasa.
Pada saat ini kegemukan anak balita dan anak sekolah sudah menjadi masalah gizi (kelebihan gizi) yang cukup menguatirkan. Prevalensi kegemukan pada balita di Indonesia meningkat melampaui angka malnutrisi pada balita. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan, prosentase balita gemuk mencapai 14 persen lebih tinggi dari jumlah balita yang sangat kurus dan kurus yakni 6 persen dan 7,3 persen atau 13,3 persen. Sementara hasil riset serupa pada tahun 2007 menunjukkan angka prosentase balita gemuk baru 12,2 persen.
Peningkatan prevalensi obesitas juga diikuti dengan peningkatan prevalensi komorbiditas (penampilan bersamaan dari dua penyakit atau lebih), seperti peningkatan tekanan darah, aterosklerosis (pengerasan dan penyempitan pembuluh darah), hipertrofi ventrikel kiri (gangguan jantung), sumbatan jalan napas saat tidur, asma, sindrom polikistik ovarium (gangguan keseimbangan kadar hormona pada wanita), diabetes melitus tipe-2, perlemakan hati, abnormalitas kadar lipid darah (dislipidemia), dan sindrom metabolik (gangguan metabolisme).
Anak yang sehat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- berat badannya normal sesuai standar (baku) yang berlaku,
- berat badan naik setiap bulan,
- ceria, lincah dan proaktif (menurut bahasa orang dewasa adalah "nakal").
Salah satu upaya orang tua untuk menjaga kesehatan anak adalah memantau perkembangan berat badan anak dengan cara menimbang anak setiap bulan baik di posyandu, klinik kesehatan atau ditimbang sendiri di rumah dan sebagainya. Jika 2 (dua) kali penimbangan anak secara berturut-turut tidak naik berat badannya, maka ibu (orang tua) seyogyanya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengevaluasi anak dalam keadaan sakit, kurang gizi, atau ada gangguan yang lain.
Author
Drs. Djoko Sutopo, MS
Komentar
Posting Komentar